Menulis skripsi memang seringkali jadi tantangan tersendiri, bukan? Apalagi saat harus berhadapan dengan bagian awal yang krusial: latar belakang masalah. Banyak dari kita yang merasa bingung harus mulai dari mana, bagaimana merangkai kata agar masalah terlihat jelas, atau bahkan khawatir latar belakang kita tidak cukup “kuat” untuk menarik perhatian dosen pembimbing. Jika Anda merasakan hal yang sama, Anda berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah untuk menyusun latar belakang masalah skripsi yang tak hanya kuat, tapi juga meyakinkan dan orisinal.
Sebelum kita menyelam lebih dalam, mari kita pahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan “latar belakang masalah” dalam konteks skripsi Anda. Sederhananya, latar belakang masalah adalah bagian yang menjelaskan mengapa penelitian Anda penting dan layak untuk dilakukan. Ini adalah fondasi yang membangun narasi, dari isu umum hingga masalah spesifik yang ingin Anda pecahkan melalui penelitian. Ibarat sebuah cerita, latar belakang masalah adalah prolog yang harus memikat pembaca untuk terus mengikuti alur cerita Anda.
Mari kita bongkar rahasia di balik Cara membuat latar belakang masalah skripsi yang kuat.
1. Mengidentifikasi Gap Penelitian yang Jelas
Langkah pertama yang paling fundamental adalah menemukan “gap” atau celah penelitian. Ini bukan sekadar mencari-cari masalah, tapi menemukan kekosongan pengetahuan atau solusi yang belum optimal di bidang Anda.
Anda perlu menunjukkan bahwa ada area yang belum tergarap sepenuhnya atau ada pertanyaan yang belum terjawab secara memuaskan oleh penelitian-penelitian sebelumnya.
Bagaimana Cara Menemukan Gap Penelitian?
-
Review Literatur Mendalam: Baca sebanyak mungkin jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, dan tesis-tesis terdahulu yang relevan.
Perhatikan apa yang sudah diteliti, apa hasilnya, dan poin-poin apa yang disarankan untuk penelitian selanjutnya. Seringkali, para peneliti sendiri yang menunjukkan “area for future research”.
-
Observasi Realitas Lapangan: Amati fenomena atau isu yang terjadi di sekitar Anda, baik di lingkungan kerja, masyarakat, atau industri tertentu.
Adakah masalah praktis yang belum teratasi? Misalnya, sebuah perusahaan menghadapi penurunan penjualan drastis. Penelitian sebelumnya mungkin fokus pada strategi pemasaran, tapi mungkin ada gap di faktor kepuasan pelanggan pasca-penjualan yang belum banyak digali.
Contohnya, jika banyak penelitian menunjukkan bahwa media sosial efektif untuk promosi produk (studi kasus A, B, C), Anda bisa mencari gap seperti “Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik mengkaji efektivitas platform TikTok dalam meningkatkan penjualan produk UMKM di daerah X, terutama dengan fokus pada karakteristik demografi pengguna berusia 40+.” Ini menunjukkan ada area spesifik yang belum disentuh.
2. Membangun Argumen Secara Logis dan Berjenjang (Funnel Approach)
Latar belakang masalah yang kuat itu seperti perjalanan yang terstruktur, membawa pembaca dari gambaran besar ke fokus yang sangat spesifik. Saya sering menyebutnya “pendekatan corong” atau funnel approach.
Mulailah dari konteks yang paling luas, kemudian secara bertahap menyempit hingga ke akar masalah yang akan Anda teliti.
Struktur Argumen yang Efektif:
-
Gambaran Umum/Konteks Global/Nasional: Mulailah dengan isu yang sangat umum dan relevan di tingkat yang lebih besar.
Misalnya, berbicara tentang digitalisasi ekonomi secara global, tren penggunaan teknologi dalam pendidikan, atau isu perubahan iklim secara mendunia.
-
Konteks Lokal/Spesifik: Turunkan isu tersebut ke ranah yang lebih spesifik, seperti di Indonesia, di provinsi Anda, atau di jenis industri tertentu.
Jika sebelumnya Anda bicara digitalisasi global, kini fokus ke adopsi teknologi digital di UMKM Indonesia, lengkap dengan data pendukung.
-
Identifikasi Masalah Umum: Dari konteks spesifik tersebut, munculkan masalah-masalah umum yang relevan.
Misalnya, “Meskipun adopsi teknologi digital meningkat, masih banyak UMKM yang kesulitan mengelola keuangan secara digital,” atau “Efektivitas penggunaan aplikasi belajar online belum optimal di kalangan siswa SMP di kota tertentu.”
-
Fokus Masalah Penelitian Anda: Terakhir, saring masalah umum tersebut menjadi masalah spesifik yang akan Anda teliti.
Ini adalah titik di mana Anda menghubungkan “gap” yang sudah Anda temukan dengan topik skripsi Anda. Ini adalah inti dari mengapa penelitian Anda hadir.
Contoh: “Digitalisasi telah mengubah lanskap bisnis global… Di Indonesia, transformasi digital UMKM juga pesat… Namun, adopsi teknologi digital seringkali tidak diiringi dengan peningkatan literasi keuangan digital bagi pemilik UMKM… Akibatnya, banyak UMKM yang meskipun punya platform digital, masih kesulitan mengelola arus kas… Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji pengaruh pelatihan literasi keuangan digital terhadap kinerja keuangan UMKM di Kabupaten X.”
3. Mendukung dengan Data dan Referensi Kredibel
Argumentasi Anda tidak akan kuat tanpa fondasi yang kokoh: data dan referensi ilmiah. Ini adalah bukti bahwa masalah yang Anda angkat bukan sekadar asumsi pribadi.
Gunakan data statistik, hasil survei, laporan dari lembaga terkemuka, atau kutipan dari jurnal ilmiah yang relevan untuk memperkuat setiap pernyataan Anda.
Pentingnya Referensi:
-
Meningkatkan Kredibilitas: Dosen pembimbing dan penguji akan melihat bahwa Anda telah melakukan riset awal yang serius dan masalah Anda didukung oleh fakta.
-
Menunjukkan Kedalaman Pemahaman: Dengan mengutip berbagai sumber, Anda menunjukkan bahwa Anda memahami lanskap penelitian di bidang Anda dan bisa menempatkan penelitian Anda dalam konteks yang lebih luas.
-
Menghindari Plagiarisme: Selalu kutip sumber Anda dengan benar. Ini bukan hanya masalah etika, tapi juga menunjukkan integritas akademik Anda.
Jangan hanya mengatakan “banyak perusahaan mengalami kerugian,” tapi sertakan data seperti “Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM (2023), 40% UMKM mengalami penurunan profitabilitas akibat manajemen keuangan yang belum optimal.” Atau, “Penelitian oleh Smith (2021) dan Jones (2022) menunjukkan tren serupa di negara-negara berkembang.” Ingat, semakin kuat referensi Anda, semakin kokoh pula fondasi latar belakang masalah Anda.
4. Menjelaskan Urgensi dan Relevansi Masalah
Setelah Anda menunjukkan apa masalahnya dan bagaimana Anda menemukannya, langkah selanjutnya adalah menjelaskan mengapa masalah ini penting dan relevan untuk segera diteliti.
Pembaca harus memahami dampak negatif jika masalah ini tidak segera diatasi, serta manfaat positif jika penelitian Anda berhasil memberikan solusi.
Aspek Urgensi dan Relevansi:
-
Dampak Negatif: Jelaskan konsekuensi atau kerugian yang timbul akibat masalah tersebut. Apakah berdampak pada ekonomi, sosial, lingkungan, atau individu?
Misalnya, masalah limbah plastik yang tidak terkelola dengan baik berdampak pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.
-
Pihak yang Terdampak: Siapa saja yang merasakan langsung dampak dari masalah ini? Masyarakat umum, kelompok tertentu, perusahaan, atau pemerintah?
Dengan mengidentifikasi ini, Anda menunjukkan bahwa penelitian Anda memiliki audiens dan penerima manfaat yang jelas.
-
Potensi Solusi/Manfaat Penelitian: Secara implisit atau eksplisit, tunjukkan bagaimana penelitian Anda diharapkan dapat berkontribusi dalam memecahkan masalah atau memberikan pemahaman baru.
Misalnya, “Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi stunting.”
Bayangkan Anda ingin meneliti tentang “Pengaruh Work From Home terhadap Produktivitas Karyawan”. Anda harus menjelaskan bahwa di era pandemi, WFH menjadi kenormalan baru, namun belum ada standar baku pengukuran produktivitas yang komprehensif, sehingga perusahaan kesulitan membuat kebijakan yang tepat. Urgensinya adalah agar perusahaan tidak salah langkah dalam mengambil kebijakan kerja hybrid di masa depan.
5. Merumuskan Masalah dengan Tegas dan Fokus
Semua yang sudah Anda bangun di latar belakang masalah harus bermuara pada perumusan masalah yang jelas dan terarah. Ini adalah jembatan yang menghubungkan narasi latar belakang Anda dengan pertanyaan penelitian atau tujuan penelitian.
Perumusan masalah harus spesifik, dapat diukur, dan menjawab “gap” yang sudah Anda identifikasi sebelumnya.
Ciri Perumusan Masalah yang Baik:
-
Spesifik: Tidak terlalu umum atau abstrak. Hindari pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak” saja.
-
Jelas: Menggunakan bahasa yang lugas, tidak ambigu, dan mudah dipahami.
-
Fokus: Hanya membahas satu atau beberapa aspek dari masalah yang lebih besar, sesuai dengan kapasitas dan lingkup penelitian skripsi.
-
Dapat Diteliti (Researchable): Ada data atau metode yang memungkinkan Anda untuk mencari jawabannya.
Contoh: Daripada hanya menulis “Bagaimana dampak media sosial?”, lebih baik menjadi “Bagaimana pengaruh penggunaan Instagram sebagai media promosi terhadap keputusan pembelian produk fashion pada kalangan mahasiswa di Universitas X?”. Ini jauh lebih terfokus dan bisa diukur.
6. Menggunakan Bahasa yang Jelas, Singkat, dan Meyakinkan
Gaya penulisan memainkan peran besar dalam Cara membuat latar belakang masalah skripsi yang kuat. Meskipun isinya sangat ilmiah, bukan berarti Anda harus menulis dengan bahasa yang kaku dan berbelit-belit.
Targetkan untuk menulis secara profesional namun tetap mudah dicerna, persuasif, dan efektif dalam menyampaikan pesan Anda.
Tips Penulisan yang Efektif:
-
Hindari Jargon Berlebihan: Jika harus menggunakan istilah teknis, pastikan untuk menjelaskannya secara singkat atau pastikan audiens Anda (dosen pembimbing) sudah familiar.
-
Gunakan Kalimat Efektif: Singkat, padat, dan langsung pada intinya. Hindari pengulangan kata atau ide yang tidak perlu.
-
Gaya Bahasa Formal, tapi Tidak Kaku: Skripsi adalah karya ilmiah, jadi formalitas itu penting. Namun, Anda masih bisa menulis dengan alur yang nyaman dibaca, seperti sedang bercerita secara profesional.
-
Perhatikan Alur dan Koherensi: Pastikan setiap paragraf mengalir logis dari satu poin ke poin berikutnya. Gunakan kata penghubung yang tepat untuk menunjukkan transisi antar ide.
Bayangkan Anda sedang “menjual” ide penelitian Anda kepada pembaca. Anda harus meyakinkan mereka bahwa masalah ini nyata, penting, dan penelitian Anda adalah cara terbaik untuk mengatasinya. Jangan ragu untuk menggunakan kalimat yang menunjukkan kepastian dan keyakinan Anda terhadap topik yang diangkat.
Tips Praktis Membuat Latar Belakang Masalah Skripsi yang Kuat
Setelah memahami fondasi utamanya, ini ada beberapa tips praktis yang bisa langsung Anda terapkan dalam proses penyusunan:
-
Mulai Lebih Awal: Jangan menunggu proposal jadi baru memikirkan latar belakang. Mulailah saat Anda masih dalam tahap ide. Semakin awal, semakin banyak waktu untuk meriset dan merenungkan.
-
Gunakan Outline: Buat kerangka atau outline terlebih dahulu. Ini akan membantu Anda mengatur ide dari umum ke spesifik, serta memastikan semua poin penting tercakup.
-
Baca Contoh Skripsi Terdahulu: Carilah contoh skripsi dari kakak tingkat atau di perpustakaan kampus Anda yang mendapatkan nilai bagus. Pelajari bagaimana mereka menyusun latar belakang masalahnya. Ini bukan untuk menjiplak, tapi untuk mendapatkan inspirasi struktur dan gaya.
-
Diskusi dengan Pembimbing: Jangan ragu untuk berdiskusi dengan calon dosen pembimbing Anda. Mereka bisa memberikan masukan berharga mengenai arah penelitian, data yang relevan, atau bahkan potensi “gap” yang mungkin terlewat oleh Anda.
-
Fokus pada “Mengapa”: Setiap kalimat dalam latar belakang Anda harus menjawab pertanyaan “Mengapa ini penting?” atau “Mengapa ini relevan?”.
-
Revisi, Revisi, Revisi: Jarang sekali latar belakang masalah yang sempurna di tulisan pertama. Bacalah ulang, perbaiki tata bahasa, perbaiki alur, dan minta teman atau kolega untuk membacanya. Perspektif baru sangat membantu.
FAQ Seputar Cara Membuat Latar Belakang Masalah Skripsi yang Kuat
Ini beberapa pertanyaan umum yang sering muncul saat menyusun latar belakang masalah:
Q1: Berapa panjang ideal latar belakang masalah?
A1: Tidak ada patokan mutlak, tapi umumnya berkisar antara 3-5 halaman. Yang terpenting bukan jumlah halamannya, melainkan seberapa komprehensif dan jelas Anda memaparkan masalah, urgensi, dan relevansi penelitian Anda. Pastikan setiap paragraf memberikan kontribusi berarti, bukan hanya mengisi halaman.
Q2: Apakah saya harus menyebutkan teori di latar belakang?
A2: Sebaiknya tidak terlalu dalam. Latar belakang lebih fokus pada masalah empiris dan gap penelitian. Teori yang relevan biasanya dibahas lebih detail di Bab Tinjauan Pustaka. Namun, Anda bisa menyinggung secara singkat kerangka konseptual jika itu sangat penting untuk menjelaskan konteks masalah.
Q3: Bagaimana jika saya kesulitan menemukan “gap” penelitian?
A3: Jangan panik! Mulailah dengan membaca ulasan literatur (literature review) dari jurnal-jurnal terkini. Di bagian kesimpulan atau saran, seringkali penulis menyarankan arah penelitian masa depan. Selain itu, diskusikan dengan dosen atau mentor Anda. Mereka mungkin punya wawasan tentang isu-isu yang belum banyak tergarap.
Q4: Kapan waktu terbaik untuk menulis latar belakang?
A4: Idealnya, Anda sudah mulai mengumpulkan ide dan draf kasar latar belakang begitu Anda memiliki gagasan topik penelitian. Latar belakang akan terus berkembang dan disempurnakan seiring dengan pendalaman literatur dan perumusan masalah yang lebih fokus. Jangan menunda hingga bab-bab lain sudah selesai.
Q5: Bisakah saya mengubah latar belakang setelah proposal disetujui?
A5: Perubahan minor wajar terjadi, bahkan mungkin diperlukan untuk meningkatkan kualitas. Namun, perubahan substansial yang mengubah arah atau fokus masalah penelitian Anda harus dibicarakan dan disetujui oleh dosen pembimbing. Fleksibilitas itu baik, tapi selalu konsultasikan untuk menghindari masalah di kemudian hari.
Kesimpulan
Menyusun latar belakang masalah skripsi yang kuat bukanlah tugas yang mudah, namun bukan pula hal yang mustahil. Dengan pemahaman yang tepat tentang cara mengidentifikasi gap, membangun argumen secara logis, mendukung dengan data, serta menyajikan urgensi masalah dengan bahasa yang jelas, Anda sudah selangkah lebih maju.
Ingatlah bahwa latar belakang adalah “jantung” dari proposal Anda. Jika jantungnya sehat dan berdetak kuat, maka seluruh tubuh penelitian Anda akan terasa kokoh dan meyakinkan. Mulailah praktikkan tips dan panduan ini sekarang. Jangan takut untuk bereksplorasi dan berdiskusi. Anda pasti bisa menulis latar belakang masalah yang tidak hanya memenuhi syarat, tapi juga benar-benar menginspirasi dan membuka jalan bagi penelitian yang impactful. Semangat!




